Penelitian bertema seksualitas dengan komitmen pada etika dan kesetaraan

Ketertarikan saya untuk memperdalam dan aktif dalam bidang jender dan seksualitas dimulai dari tugas kuliah pada saat saya menjadi mahasiswa program pra-magister Antropologi di Universitas Amsterdam. Meskipun saya telah mempelajari metode penelitian kualitatif sejak masa perkuliahan program Sarjana di Universitas Indonesia dulu, saya belum pernah secara intensif mendalami peran saya sebagai peneliti dan memperhatikan secara refleksif hubungan saya pada teman-teman (interlocutor) saya di lapangan.

Mungkin saja usia dan pengalaman yang menempa saya sebagai seorang imigran dan perempuan, yang membuat saya menjadi lebih sensitif dengan hubungan-hubungan yang saya bangun atau saya jalani dengan para teman ataupun rekan. Saya banyak sekali bertanya pada supervisor pembimbing saya, mengenai langkah-langkah yang saya ambil, sehubungan dengan pertemanan saya, baik secara pribadi, maupun profesional, sebagai peneliti.

Banyak antropolog atau peneliti yang dengan sukses mendapatkan kepercayaan dari interlocutor atau narasumbernya. Tapi tidak mampu mempertahankan hubungan baik dengan para narasumber tersebut. Bagi saya, hal ini menjadi sulit. Karena hampir semua narasumber tersebut, adalah juga, atau kemudian menjadi kawan baik saya. Maka pertemanan yang ada, dapat dengan mudah membuat saya mewawancarai dan mendapatkan informasi dari para teman. Tapi ini bisa jadi melanggar etika sebagai peneliti.

Etika menggali informasi dan pertemanan

Pertemanan memang membuka akses kita kepada narasumber dan pengetahuan yang kita butuhkan dalam mempelajari sebuah kelompok masyarakat atau sub-culture. Dengan pertemanan, maka kita mendapatkan kepercayaan. Terutama jika kita ingin memperdalam atau mempelajari mengapa seseorang atau sekelompok orang melakukan sesuatu, memilih sebuah cara hidup yang tidak sesuai dengan mainstream. Ataupun yang sesuai dengan norma. Tidak semua orang ingin kehidupan pribadinya dipelajari oleh orang lain dan dijadikan bahan penelitian. Hal ini yang paling penting untuk disadari oleh para peneliti. Teruatama bagi antropolog yang menjunjung tinggi prinsip bahwa narasumber adalah subjek dalam sebuah konteks penelitian dan kita belajar darinya. Bukan yang sebaliknya.

Dalam penelitian yang saya lakukan, saya sangat beruntung karena banyak teman membantu saya untuk mendapatkan banyak kenalan yang membuat saya dapat melakukan tehnik snowball. Dari satu teman, saya dikenalkan dengan teman-teman yang lainnya. Tidak semuanya ingin saya wawancarai. Ada yang berbaik hati membuka rumahnya untuk saya. Sehingga saya dapat melakukan wawancara beberapa hari dan lebih mengenal teman-teman saya ini.

Dalam hubungan pertemanan yang santai, terkadang terjadi bentuk wawancara yang informal. Hanya bercakap-cakap, curhat ataupun diskusi. Sebagai peneliti, saya diingatkan oleh para pengajar metode penelitian untuk tidak lupa mengingatkan mereka, bahwa saya ada disana dalam rangka penelitian. Ataupun sesekali saya akan bertanya, bolehkah saya menggunakan percakapan tersebut dalam tulisan atau thesis yang akan saya tulis. Begitu juga dengan foto-foto yang diambil saat penelitian terjadi.

Meskipun dalam pergerakan di Indonesia sudah banyak sekali kasus  “coming out”, sebagai bagian dari sikap perlawanan pribadi dan komunal, namun adalah tanggungjawab peneliti untuk melindungi privacy yang dimiliki oleh setiap narasumber penelitian. Tidak menggosip dan menceritakan dengan teman yang lain, adalah sebuah sikap dan kode etik yang harus dijaga. Terkadang, sebagai manusia kekhilafan-kekhilafan itu secara tidak sengaja terjadi. Peneliti hanyalah manusia, yang juga berbicara. Namun tetap saja harus bertanggungjawab untuk melindungi narasumber yang sudah mempercayai kita. Bukan hanya hubungan profesional, hubungan pertemanan kita akan terganggu jika hal tersebut terjadi.

Menulis data secara etis dan ilmiah

Hasil wawancara yang beragam adalah sebuah keunggulan dari bentuk in-depth interview atau wawancara mendalam. Dengan metode tersebut akan ada keistimewaan ataupun kekhususan yang tidak dapat dicapai dengan metode questioner ataupun pertanyaan tertutup dengan jawaban (ya/tidak) dan pilihan (a,b,c). Selain in-dept interview, kita juga mengenal metode life history, yang memberikan ruang yang cukup besar bagi narasumber untuk mengekspresikan dan merekonstruksi kisah hidupnya dan bagian-bagian cerita yang ia anggap penting. Terutama penelitian yang berkaitan dengan seksualitas dan kelompok yang merasa dimarginalkan oleh public, seperti gay dan transgender. Ini akan sangat membantu kita untuk menemukan hal yang lebih menarik yang mungkin bahkan tidak kita prediksi sebelum turun lapangan. Dengan begitu narasumber dapat saja menuntun kita kepada masalah yang lebih penting dan menarik untuk diperdalam.  

Peneliti sosial dan wartawan bisa saja mendapatkan bahan atau data yang sama. Data-data tersebut dapat berupa curhatan ataupun bahan pergosipan yang menyangkut kehidupan pribadi, percintaan, pertemanan dan masalah pribadi lainnya. Saya pribadi menganggap bahan ini sebagai sumber yang amat kaya. Dibandingkan dengan jawaban-jawaban yang diberikan secara formal. Namun, bagaimana data dan hasil wawancara disajikan dalam bentuk tulisan, tentu akan berbeda. Para peneliti sosial diharuskan untuk dapat membaca hasil-hasil penelitian yang sudah ada, untuk kemudian dapat menambahkan ataupun mengkritisi hasil penelitian sebelumnya. Semakin banyak referensi yang dibaca akan menambah pengetahuan kita sebagai peneliti untuk mengerti trend dalam bidang yang kita dalami, siapa saja dan apa saja argumentasi yang telah ada sebelumnya. Bahan-bahan bacaan atau refrensi yang ada akan membantu kita dalam memfokuskan hal yang ingin dan tidak ingin kita lihat sebagai peneliti.

Prinsip kesetaraan dan tindakan refleksi

Bagaimana seorang peneliti memberikan respek dalam menuliskan pengetahuan yang ditemukannya dalam lapangan adalah sebuah penanda apakah kita mempraktekkan kesetaraan dalam hubungan peneliti dan narasumber. Sebagai peneliti, yang diberi kepercayaan untuk menuliskan pengalaman orang lain atau sebuah sub-culture, kita mendapatkan sebuah power dari narasumber. Power tersebut perlu dilihat secara moral, daripada secara hubungan yang timpang dan dapat disalahgunakan. Karena dengan seperti itu, kita juga memperlihatkan suara-suara yang ada tentang permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Gayatri Spivak adalah salah seorang feminis, akademisi dan aktivis yang gencar dalam menyuarakan bahwa sub-altern memiliki suara atau pendapat. Dalam mempelajari sub-culture yang dimarginalkan, peneliti harus sangat sadar dengan tanggungjawab untuk tidak turut melakukan penyalahgunaan informasi. Karena jika tidak hati-hati, tulisan yang kita buat justru akan menyudutkan teman-teman kita. 

Tindakan refleksi, juga sangat perlu dilakukan. Dengan tindakan tersebut, sebagai peneliti kita dapat dengan transparan memberikan informasi kepada pembaca, dimanakah posisi kita sebagai seorang individu dan peneliti terhadap penelitian tersebut dan kaitannya dengan hubungan peneliti dengan narasumber. Peneliti juga terkadang mengalami hal-hal yang emosional sebagai individu, yang tidak dapat dipisahkan dengan posisinya sebagai peneliti. Hal tersebut akan menjadi pelengkap yang menarik dalam tulisan yang dihasilkan. Karena hasil penelitian itu adalah bentuk interaksi dengan seorang peneliti dan para narasumbernya. Itu sebabnya hasil penelitian pada sebuah sub-culture yang sama, bisa saja berbeda. Karena peneliti, bukanlah petugas sensus. Ia mewarnai juga interaksi yang ada pada saat penelitian.

Tulisan ini sudah pernah diterbitkan oleh Suara Kita. Portal LGBT Indonesia. 

Sexual Abuse Tragedy at JIS Exposes Ignorance

The sexual assault tragedy that has taken place at the Jakarta International School sparked massive attention and concern among both Indonesians and expatriates. Since the tragedy was announced, it made headlines all over the country. But there is a lot more to this case than the “mere” criminal act of alleged sexual assault of a young boy.

Some media outlets wrote about a so-called emergency situation created by “pedophiles and homosexuals,” which shows that this tragic case has been used provocatively to discredit an already-marginalized group in Indonesia, namely homosexuals.

Additionally, when looking at this case we should not ignore issues of social hierarchy and the wide economic gap between the alleged perpetrators and the people or the institution they worked for. This is another crucial factor in determining how this particular case is has been handled by government institutions, the school and the media.

Blaming the victim, and others

Indonesian Child Protection Commission (KPAI) chairman Asrorun Niam Sholeh spoke to Tribunnews.com about what he said was the indecent behavior of JIS students and teachers. He said he had received reports about physical contact between teachers and students, and intimate relationships between female and male students. Others also criticized female students at JIS for their allegedly “sexy” wardrobe. Generally, the students’ behavior and clothes were being associated with “Western values.”

Asrorun also mentioned that he received a report about a gay teacher working at JIS, and Jakarta Police spokesman Sr. Comr. Rikwanto said: “The suspect is a janitor who can be categorized as gay.”

The police spokesman added the categorization of “mental illness.”

The KPAI and the Jakarta Police are two of the most important institutions handling this case. Parents of victims are counting on these organizations to bring the perpetrators to justice.

So, rather than focusing on the behavior of students who are victims of sexual abuse, the KPAI should be concentrating on the protection of the students from sexual predators — whoever they are. The only message the KPAI should be sending out to the public is that an adult should not be allowed to abuse a child, regardless of what clothes that child is wearing and whether or not the child socializes with other children — boys or girls.

OurVoice Indonesia is an organization that has been working for several years on the issue of gender diversity and justice. Under the leadership of Hartoyo, OurVoice is also very active in promoting justice for victims of sexual abuse.

The organization has expressed its concerns about the JIS tragedy — and especially about the apparent attempt by some parties involved to link the issue to homosexuality.

On April 17, OurVoice sent a protest letter to Rikwanto, demanding that the Jakarta Police prioritize punishing the perpetrators and unequivocally consider the students at JIS as victims.

OurVoice also explains in the letter that pedophilic acts should be seen as sexual acts performed by an adult on a child. Thus, a pedophile is not remotely similar a homosexual: a male or female who is sexually and emotionally attracted to people of the same gender.

The protest letter rightly expresses the fear that misinformed statements could lead to hatred of and violence towards gay people in Indonesia. And importantly, the organization stresses that better education can solve many problems regarding gender and sexuality in this country.

Social status

Every day in Indonesia, there are many cases of rape and sexual abuse. However, rarely do these cases get anywhere near the amount of media attention the JIS case has.

There are women, transgendered people and children who are not as privileged as the victims associated with a prestigious school, who have suffered just as much, physically and emotionally. This is not to disparage the suffering of all those hurt by the JIS tragedy, but too often, the traumatic experiences of other victims are simply overlooked in this country.

JIS is known as a school for children of diplomats and expatriate businesspeople. As a consequence, this school has been receiving exceptional attention from not only the media, but also the police, the government and the public. It didn’t take very long for police to take a number of suspects into custody. They were low-income cleaning personnel who could not afford a lawyer and concerns have been raised over their treatment. In fact, one suspect apparently committed suicide under suspicious circumstances while in police custody.

It is not unlikely that — had the social positions of victims and perpetrators been reversed — the case would not even have seen the light of day.

Sex education

As Indonesians, for a long time we have been hiding behind norms and values that we believed could save us and our children from sexual violence, unwanted pregnancy and sexually transmitted infections. We also are very proud of the traditions that we think can protect our own freedom and personal liberation in the face of our own deprivations.

But we cannot watch our children 24/7. They will at some point in their lives be confronted with questions about sexuality and possibly with the undesirable sexual behavior of others.

We, as parents, the state, educational institutions — as society at large — should provide our children with a better understanding of gender, sex and sexuality. Only then can we hope that all sexual abuse cases, if not prevented, will at least be seen for what they are, and tackled, regardless of the social status of the victim, by a law enforcement system that knows the difference between homosexuality and pedophilia.

Note: This article is published by Jakarta Globe.

Perempuan imigran di Belanda dan redefinisi subyektifitas

Seseorang tidak terlahir sebagai perempuan, kecuali menjadi perempuan kata filosof feminis Simone de Beauvoir. Pernyataan ini juga menjadi dasar argumentasi banyak pemikir dan aktifis pembela hak-hak perempuan. Bukan saja menjadi perempuan adalah sebuh keistimewaan yang ironis, namun identitas sebagai perempuan tersebut melahirkan beban, tanggungjawab dan perilaku yang harus diikuti, kaitannya dengan hubungannya dengan orangtua, lingkungan, kekasih maupun istri. Subyektifitas perempuan yang sangat problematis ini terjadi secara universal, artinya dimana-mana. Bahwa perempuan secara struktur dipinggirkan posisinya dari sejak ia lahir dan diketahui tidak memiliki penis, bukan lagi keistimewaan kebudayaan masyarakat tertentu. Mungkin hal ini yang membuat para feminis lahir dengan berbagai pandangan dan caranya.Dari  mereka yang tampil sebagai pemikir yang ingin merebut ruang dalam ilmu pengetahuan  sampai dengan perjuangan sejumlah Srikandi pemberani yang melawan hukum yang dzalim. Terkadang merekapun sampai harus melawan kaumnya sendiri.

 Sekolah imigran di Belanda

 Adalah musim semi di tahun 2005 saya menginjakkan kaki saya di tanah Belanda dengan harapan mulia yaitu diperlakukan sebagai perempuan dengan setara. Sebagai imigran, saya dituntut untuk mengikuti kursus bahasa dan kebudayaan. Nama kursus ini yaitu “Inburgeringscursus” yang jika diartikan secara harfiah adalah kursus untuk menjadi warga negara atau “burger”. Sekolah penyelenggara mengkategorikan para imigran menjadi beberapa kelompok dilihat dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan masing-masing sebelum pindah ke Belanda. Banyak juga yang datang dari negara-negara seperti Afganistan, Ethopia, Irak dan Iran, yang merupakan pencari suaka dan beberapa dari mereka tidak dapat membaca alfabet. Sebagian dari mereka adalah janda ataupun terpisah dari suaminya. Mereka tinggal di tempat penampungan yang berbeda dengan suami mereka.

Di tahun 2007 setelah lulus dari kursus ini, saya melamar pekerjaan di sekolah yang sama sebagai asisten guru. Selain mengasisteni para imigran yang juga murid, saya juga harus memastikan bahwa para ibu yang adalah calon murid bisa mendapatkan tempat untuk menitipkan anaknya. Prosedur untuk menjadi anggota childcare di belanda sangatlah birokratis. Prosedur ini melibatkan sekolah imigrasi dan cityhall atau kelurahan yang bertanggungjawab untuk membiayai childcare tersebut. Dengan bahasa belanda saya yang masih terbata-bata, saya berusaha melakukan tugas tersebut.

Saya mendapatkan satu map besar berisi informasi nama ibu yang harus dihubungi dan diberitahu bahwa ia harus mulai sekolah. Setelah itu saya akan meregistrasi nama dan usia anak dan mencari childcare yang dekat dengan rumah ibu dan sekolah anak. Suatu hari saya dengan bahasa Perancis yang sangat terbatas mencoba menghubungi seorang ibu yang baru saja datang dari Afrika. Panggil saja namanya Aminah. Ia adalah seorang janda beranak tiga. Yang membuat saya kaget, anak ketiganya masih bayi, usia beberapa bulan. Saya menjelaskan bahwa ia harus sekolah dan menitipkan anak-anaknya di penitipan anak. Awalnya ia menolak. Tentu saya sadar, ibu mana yang dengan sukarela mau menitipkan anak bayinya ke penitipan anak. Saya mengkomunikasikan hal ini pada bos saya. Dan menurutnya tanggungjawab saya adalah membuat ibu ini bersekolah. Saya tetap harus membujuk si ibu. Kemudian ibu itu memberi alasan bahwa tidak ada bis yang melalui rumah menuju ke sekolah anak ini. Ketika saya kemukakan alasan ini, bos sayapun berkata. “Mereka bisa naik sepeda.” Saat itu saya langsung bereaksi. Saya membayangkan seorang ibu yang baru melahirkan dengan baju yang panjang seperti gamis. “Tidak semua orang bisa naik sepeda, “ jawab saya. Atasan saya itu dengan keras menjawab, “Kamu terlalu memanjakan mereka. Mereka perempuan-perempuan imigran harus belajar mandiri. Kami saja bisa, mengapa mereka tidak?”

Menjadi perempuan Imigran-Belanda

Tidak sedikit perempuan imigran yang datang dan mengeluh tidak dapat tidur berhari-hari karena kecemasan yang dideritanya. Kecemasan akan masa lalu dan kecemasan harus menjalani kehidupan yang tidak mereka sukai. Beberapa dari mereka yang saya kenal mengkonsumsi obat-obatan untuk meredam depresi dan sekedar dapat tidur. Namun menjadi “mandiri seperti layaknya perempuan belanda” adalah sebuah proyek besar yang sifatnya menjadi sangat memaksa (oppressive). Metode agresif ini mengingatkan saya dengan kebijaksanaan NGO dari Negara Eropa dengan program pencegahan angka penularan HIVnya dengan cara menyunat para laki-laki di Nigeria supaya tidak mudah terinfeksi HIV.

Fenomena yang juga cukup serius, yang bukan hanya didapati di tengah imigran perempuan saja, namun juga imigran laki-laki adalah pemisahan kategori antara imigran yang berpotensi dan baik dan imigran yang tidak berpotensi. Imigran berpotensi adalah mereka yang dapat dengan cepat berasimilasi. Imigran yang kurang baik adalah mereka yang masih melakukan tradisi dan nilai yang mereka bawa sebelum berimigrasi. Ditengah para imigran, kategori-kategori  ini juga menjadi sebuah standar yang harus dicapai. Karena dengan sendirinya, dengan berimigrasi para imigran mengalami perbenturan dengan para individu dari berbagai etnis dan kelas sosial, belum lagi penduduk lokal. Pertemuan dan benturan ini menghasilkan banyak ketidakpastian pada diri sendiri akan eksistensi diri dan kebutuhan untuk meredefinisi siapakah “ aku.”

 Menyaksikan dan mengalami prosesnya sendiri membuat saya sadar, menjadi perempuan dan ibu sesuai dengan definisi yang dipercaya dan diterapkan dalam kebudayaan yang lain adalah sebuah pemaksan identitas. Pemerintah maupun sekolah dengan sangat ketat menerapkan program perubahan jati diri ini seperti sebuah proses alami. Apa yang perempuan Belanda bisa, maka harusnya perempuan imigran juga bisa. Identitas berikut konsekuensinya dibebankan, tanpa melihat latar belakang pendidikan, usia, agama, nilai-nilai yang dipercaya, serta kondisi-kondisi tertentu. Yang dimaksudkan dengan kondisi-kondisi tertentu adalah cuaca, trauma kekerasan dalam rumah tangga, trauma perang di negara asal, kecemasan akan menjadi minoritas di tengah-tengah, sampai dengan tuntutan-tuntutan untuk mandiri tersebut.

 Artikel ini telah di publikasi oleh Blog Jurnal Perempuan. 

Kekuasaan dan mistik ketelanjangan tubuh perempuan

Tubuh

Tubuh

Tubuhku adalah aku. Begitupun tubuhmu. Ia adalah kamu.” Kita tak mungkin memisahkan tubuh kita dari subyektifitas kita. Ia bukan hanya kulit, bentuk, warna dan organ-organ. Namun ia menyatu dengan keringat, air mata dan emosi kita. Tubuh itu milik kita. Kita percaya bahwa tubuh itu milik kita. Namun tubuh kita memiliki kompleksitas yang sangat rumit. Belum lagi kemistikannya. Terutama bila kamu adalah perempuan.

Mistik dalam tubuh perempuan

Dari tubuh perempuanlah terlahir mahluk hidup yang kita sebut manusia. Tubuh perempuan mengalami haid atau mensturasi yang mengeluarkan darah yang katanya darah kotor. Kita dilarang masuk masjid atau bersembahyang dalam keadaan “kotor”. Belum lagi emosi yang disebabkan oleh hormon dan sakit perut yang melilit sampai ke pantat dan vagina saat sebelum dan ketika awal mensturasi.

Adalah payudara kita, yang katanya digemari oleh pasangan laki-laki. Ia menyembul kokoh meski dengan ditutupi oleh kain. Tubuhnya dituding sebagai biang kerok perkosaan. Dari mulai pangkal paha, betis, kemudian tentu pantat dan vagina. Selama berabad-abad, kita percaya mitos ini. Kita percaya kemistikan tubuh perempuan. Bahkan wangi rambutnya memancing lelaki yang sedang tidur. Sebagian dari kita dipaksa dan terpaksa untuk menikmatinya sebagai sebuah kelebihan atau pujian, atau kasarnya sebagai cermin kepercayaan diri. Sementara perempuan lainnya berlindung dibalik meteran kain, menyembunyikan “aib” yang digunakannya, karya Tuhannya sendiri.

Ketelanjangan dan kekuasaan

Dari seorang penari bernama Okty Budiati, saya belajar mengerti ketelanjangan. Bukan tubuh perempuannya yang merepresentasikan keindahan yang banal. Namun gerak, tari dan emosinya yang bercerita akan utuhnya ia sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang penari. Di dalam tarinya, tubuhnya tidak ia gunakan sebagai sebuah media sederhana pemuas nafsu. Tubuh itu bergerak dengan ritme yang pasti. Terkadang lambat, terkadang cepar berkelibat, membentuk sebuah sinergi dengan ekspresi penuh emosi. Tubuh perempuan yang gagah, kuat memanggul apapun yang perlu dipanggulnya.

Untuk pertama kalinya saya menyaksikan puluhan tubuh telanjang di sebuah tempat relaksasi atau spa di Belanda. Tubuh-tubuh itu saling berhadapan, berpunggungan bahkan bersenggolan. Namun tidak sedikitpun, terlihat seringai mesum dari wajah mereka. Tubuh-tubuh tersebut berkelebatan dengan berbagai variasi bentuk, ukuran dan warna. Indah, tidak dalam arti sensual. Yang terpancar justru adalah kekuatan-kekuatan dan kekekaran karena beban kerja. Beberapa perempuan terlihat memiliki guratan bekas mengandung dan melahirkan anak. Kurus ataupun gemuk, bukan lagi menjadi pokok permasalahan. Seksi atau tidak juga tidak. Tubuh kemudian tidak memiliki mistik seksual. Mereka bebas. Perempuan ataupun laki-laki menjadi sama. Tidak ada yang lebih berpotensi untuk diobyektifikasi.

“If repression has indeed been the fundamental link between power, knowledge, and sexuality since the classical age, it stands to reason that we will not be able to free ourselves from it except at a considerable cost.” Michel Foucault.

Seakan-akan adalah sesuatu yang alami dan wajar, bahwa kita semua, perempuan dan laki-laki, dikenai standar yang berbeda dalam masalah kesopanan berpakaian. Kekuasaan menyelinap masuk ke dalam bilik-bilik warga negaranya. Hal tersebut dipergunakan sebaik-baiknya oleh mereka yang haus akan ketimpangan yang menguntungkan naluri binatangnya. Kewajaran sebuah ketimpangan dengan cara yang sangat halus, terutama atas nama doktrin moral, agama dan kesopanan adalah bagaimana kekuasaan bekerja melalui diskursus atau wacana. Bahwa semua ketimpangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki ini diatur dalam agama, adalah sebuah argumentasi usang. Namun beginilah kekuasaan bekerja. Agamapun akan mati tanpa dukungan negara. Dan itu sebabnya, Gayatri Spivak, seorang filosof feminis selalu menekankan bahwa agama selalu menjadi alat yang sangat paten atau efektif bagi sebuah negara yang korup untuk menguasai warganya.

Jika tubuh perempuan tidak lagi mistik dan ia diakui sebagai kesatuan yang utuh dengan kekuatan, kerentanan, kepandaian serta emosinya, maka kita tidak lagi hidup dalam ketakutan. Maka laki-laki tidak memandangi tubuh perempuan hanya karena dadanya tersembul atau kaki dan pangkal pahanya terlihat. Maka stigma itu akan mengubah perangkap yang selama ini membungkus kepala perempuan “saya berharga, jika laki-laki menginginkan saya.”

Sumber:

Budiati, Okty. 2010. Sebuah langkah keterbelahan diri.

http://benihilalang.blogspot.nl/2012/01/sebuah-langkah-keterbelahan-diri-i.html

Tulisan ini telah diterbitkan oleh Our Voice dalam rangka Hari Perempuan Internasional.

Menyambut 56 pilihan jender dari Facebook. Surprise?

Mulai bulan Januari 2014 Facebook U.S (Amerika) memuat sekitar 50 lebih pilihan jender untuk mereka yang tidak (dapat) mengidentifikasikan diri mereka dengan pilihan male atau female. Artikel ini tentu disambut dengan gembira oleh para aktivis dan teman-teman yang setuju bahwa jender tidak terbatas dengan male dan female.

  • Agender
  • Androgyne
  • Androgynous
  • Bigender
  • Cis
  • Cisgender
  • Cis Female
  • Cis Male
  • Cis Man
  • Cis Woman
  • Cisgender Female
  • Cisgender Male
  • Cisgender Man
  • Cisgender Woman
  • Female to Male
  • FTM
  • Gender Fluid
  • Gender Nonconforming
  • Gender Questioning
  • Gender Variant
  • Genderqueer
  • Intersex
  • Male to Female
  • MTF
  • Neither
  • Neutrois
  • Non-binary
  • Other
  • Pangender
  • Trans
  • Trans*
  • Trans Female
  • Trans* Female
  • Trans Male
  • Trans* Male
  • Trans Man
  • Trans* Man
  • Trans Person
  • Trans* Person
  • Trans Woman
  • Trans* Woman
  • Transfeminine
  • Transgender
  • Transgender Female
  • Transgender Male
  • Transgender Man
  • Transgender Person
  • Transgender Woman
  • Transmasculine
  • Transsexual
  • Transsexual Female
  • Transsexual Male
  • Transsexual Man
  • Transsexual Person
  • Transsexual Woman
  • Two-Spirit

 

Apa pilihan teman-teman setelah melihat sejumlah pilihan diatas? Kalau saya punya dua pilihan, yaitu Non-binary dan Two-Spirit (Apapun maknanya). Ternyata jender dapat juga menjadi menarik dan kreatif seperti kita membaca zodiak atau ramalan. Tidakkah kita menginginkan bahwa suatu hari kita akan mampu mendiskusikan jender tanpa perdebatan sengit akan hirarki dan masalah dominasi serta kekuasaan? Tapi sampai hal tersebut terjadi, mari kita bahas kembali latar belakang dan logika di balik perdebatan pembagian jenis kelamin dan jender dalam ranah akademis, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan kesetaraan.

Beberapa minggu belakangan ini, saya kembali mempelajari Gender Trouble, sebuah karya yang sangat fenomenal dari  Judith Butler. Keterbatasan pengetahuan filsafat dan ditambah dengan bahasa Inggris menyandung ambisi saya untuk memahami buah karya Butler ini. Dan Butler sendiri mengakui adanya hegemoni bahasa yang tidak memberikan ruang bagi semua orang untuk berpartisipasi dalam debat ilmiah.

Terlepas dari keterbatasan yang ada, Judith Butler mengakui bahwa kelompok akademisi terkadang tidak menyadari keinginan dan hasrat publik (selain kalangan akademisi) yang memiliki kemampuan dan ambisi yang besar untuk memahami buah pikirannya yang berpengaruh dalam masalah jender. Animo publik tersebut rupanya telah meletakkan buku ini sebagai salah satu buku yang paling laris, untuk kategori buku ilmiah.

Jender dan identitas

Apakah “identitas jender” ada setelah “identitas” ada? Tentu tidak. Menurut Butler, kita tidak mungkin memposisikan identitas jender menjadi hanya bagian dari identitas, dan juga bukan menjadikannya identitas yang utama. Beberapa Filosof seperti Simone De Beauvoir, Luce Irigaray dan Monique Wittig juga berkontribusi pada perdebatan dan diskusi mengenai identitas jender, kaitannya dengan ketidaksetaraan dan heteronormativitas.

Jika Simone De Beauvoir dengan sebuah argumentasi legendarisnya, yaitu “One is not born, but rather becomes, a woman”, yang artinya menjadi perempuan di dalam sebuah masyarakat adalah sebuah hasil konstruksi. Beauvoir membedakan antara jenis kelamin dan jender. “Being female” adalah berbeda dengan “being woman.” Karya Beauvoir ini tentu sangat eksistensialis dan Sartrian. Kontribusi Sartre yang mengedepankan “freedom” dalam “being and nothingness” sangatlah dominan dalam pemikiran di balik argumentasi ini. Konsep freedom tentu sarat akan relasi kekuasaan yang beroperasi dengan sangat rumit. Jika memang jender adalah hasil sebuah konstruksi, maka seharusnya dapat dikonstruksi dengan cara lain, tidak heteronormatif dan patriarkal, begitu tanggapan Butler.

Irigaray dan Wittig, dua filosof Perancis lainnya juga memiliki kontribusi yang cukup memperkaya diskusi identitas yang digelar oleh Butler. Bagi Irigaray, seorang ahli Psikoanalisis dan filosof lulusan Program Doktor Linguistik dari Universitas Leuven yang juga seorang murid Jacques Lacan, “satu-satunya yang diakui adalah maskulinitas.”Pernyataan ini adalah pernyataan yang sangat kuat, berpengaruh, namun juga mengundang kontroversi.  Perempuan menurut Irigaray, tidak eksis dalam kehidupan sehari-hari kecuali dalam atau memiliki fungsi ekonomi. Konsep “kapital” dari Karl Marx, tentu saja membingkai pemikirannya tersebut.

Salah seorang ahli yang tidak mungkin dilewatkan dalam diskusi ini, yang juga tidak kalah berpengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran Judith Butler adalah Monique Wittig. Menurut Wittig, argumentasi Irigaray akan tidak eksisnya perempuan dan femininitas dalam jender, justru mengembalikan jender pada dikotomi yang bersifat binary dan hirarkis tadi. Menurutnya kategori jender perempuan memang eksis dengan segala maknanya dengan kaitannya dengan laki-laki. Sikapnya terhadap pembedaan jender adalah dengan tidak membedakannya. Ia tidak mengakui dirinya sebagai penulis perempuan. Menurutnya penulis adalah penulis, tidak ada penulis laki-laki atau perempuan. Wittig dengan buah pikirannya yang membahas seksualitas perempuan lesbian, menyatakan bahwa keinginan seksual itu tidak mengenal jender. Lesbian itu tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin perempuan. Hasrat seks menurutnya adalah hasrat yang bebas. Jika aturan dan norma yang heteronormatif itu tidak ada, istilah heteroseksual dan homoseksual seharusnya tidak perlu ada.

Kesimpulan

Sistem “binary opposition” dalam  jenis kelamin dan jender (laki-laki atau perempuan) yang menjadi poros berfikir sistem heteronormatif adalah akar dari kerumitan dan dilema dalam wacana seksualitas selama tahunan. Akar akan adanya anggapan jender dan seksualitas yang normal dan tidak normal. Menurut Judith Butler, jika transgender ataupun tomboy tidak berlaku (act) seperti jender asli (real), artinya jender yang real itu ada. Sampai kapanpun, jika heteronormativitas adalah akar dari acuan kita berfikir tentang seks dan jender, maka kita akan menghabiskan waktu untuk melakukan normalisasi dan naturalisasi seks yang diluar dari norma-norma hetero.

Dan beginilah cara kekuasaan beroperasi menurut  Foucault. Sebagai warga, kita berada dibawah tangan penguasa yang mengatur kita dengan seperangkat norma-normanya. Norma tersebut beroperasi dengan melalui aturan, mitos, dosa, sangsi bahkan perlindungan. Hal-hal inilah yang memasuki ranah yang paling pribadi dan intim dalam perihal seks, jender dan seksualitas. Hal ini terus dan terus berkaitan dengan berbagai sektor dalam kehidupan kita dari ekonomi, agama, sosial dan budaya. Sebuah cara mengatur warga dengan sedemikian rumitnya sehingga kitapun menyerah dan tidak tau lagi di mana pangkal ujungnya.

Sumber bacaan

http://www.boston.com/lifestyle/blogs/bostonspirit/2014/02/facebook_adds_50_new_options_f.html

Butler, Judith. 1990. Gender Trouble : Feminism and the Subversion of identity. Routledge.

 

Tulisan ini sudah dikeluarkan oleh Ourvoice Indonesia. 

“Jeritan dari Balik Bukit Duri”

“Jeritan dari Balik Bukit Duri”

Oleh Banyu Bening

Ini lebih dari sekedar fitnah yang disucikan

Tentang perempuan pengebiri kelamin para jenderal

Tentang penari telanjang penuh kegilaan

Tentang “sundal” identitas yang berhasil disematkan

Dari balik jeruji tanpa ketok palu mereka membisu

Dibisukan dan dibungkam kekuatan nafsu

Nafsu yang telah menjalar tanpa malu

Hingga segala cara bisa berlaku

Jika saja tak ada jerit lengking menyayat dari balik Bukit Duri

Mungkin kini tak ada jerit bayi atas ibunya yang mati

Mungkin perempuan lacurku dihormati

Mungkin orang-orangan masih berdiri gagah dari jerami

Jika para perempuan tangguh tak meratap dari balik Bukit Duri

Kini kita tak butuh empati

Karena kita dan laki-laki akan beriringan bak rel kereta api

Atau bayangan yang tak terpisah hari

Bagai derita silih berganti berseling

Di Bukit Duri nasi beling bak kuda lumping

Di sini kita santap nasi basi sedekah penguasa sinting

Di istana menu favorit selalu sedia di atas piring

Jeritan dari Bukit Duri sejarah kelam

Perempuan Indonesiaku dibungkam

Kisah habis gelap makin tambah gelap

Karena sedikit pencerahan mati harap

Sebab dicekoki fitnah sepanjang sarap

Sebelum kita tambah berkarat

Mari bangkit bulatkan tekad

Meraih jaya perempuan cerdas penuh manfaat

Agar raih kembali segala martabat.

Universitas Leiden, 8 Januari 2014.

Puisi yang membuktikan, generasi kami mendesak keadilan, bagi moyang kami yang dibodohi, dianiaya dan dibungkam.

Puisi yang diwakili pembacaannya oleh Tanti Noor Said.

Rekaman wawancara tentang LGBT di Indonesia

Rekaman video ini merupakan hasil wawancara dari Ourvoice Indonesia ketika saya memberi kuliah umum Politik seksualitas di Mabes 55 di Kalibata. Bermigrasi adalah salah satu opsi untuk dapat merasa aman dari tekanan bagi mereka yang merasa marginal dan bersalah dalam tatanan dominasi heteroseksual. Meskipun begitu hubungan kekerabatan tidak terpisahkan oleh jarak dan perbedaan waktu. Norma dan nilai dari agama dan keluarga masih mengikat semua kawan-kawan saya. Jika saja kita menghormati hak azasi dan kemanusiaan melampaui ketaatan kita pada kebudayaan yang hanya memihak pada yang dominan. Heteronormativitas bukanlah heteroseksualitas. Ia sebuah aturan pengikat bagi hak kebebasan seksual seluruh bangsa, bukan hanya kaum homoseksual.

Maskulinitas, makna dan dampaknya pada konstruksi jender di dalam masyarakat dan lingkup akademis

 

Changing Masculinities Workshop

Memenuhi undangan dari guru antropologi dan seksualitas yang juga adalah supervisor saya, Professor Niko Besnier, selama tiga hari lamanya saya mengikuti sebuah workshop yang berlangsung dari tanggal 11 sampai dengan 13 Desember 2013 di Universitas Amsterdam. Tema workshopnya adalah Changing Masculinities. Waktu saya meng-iyakan untuk menghadiri workshop ini, saya kurang menyadari betapa intensif debat yang akan terjadi. Workshop ini dihadiri oleh para mahasiswa Doktoral dan Postdoc dari beberapa Universitas di Eropa dan Amerika yang saat ini sedang melakukan penelitian yang terkait erat dengan masalah jender.

Tanpa kita sadari, konsep bersifat dikotomis (maskulinitas dan femininitas) telah menjadi unsur pokok yang membentuk dan menjadi penuntun perilaku individu dan kelompok manusia, yang terkadang membatasi dan memaksa dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak tau sejak kapan pembagian ini dimulai dan diterapkan dalam masyarakat. Namun perlu saya tekankan, penitikberatkan sisi maskulinitas ataupun femininitas seseorang atau kelompok masyarakat sebagai salah satu sisi yg menarik, maka saya, kamu, kami dan kita sedang berada di wacana jender. Namun tentu saja wacana jender itu sangat luas serta ada sebagai bagian dalam kebudayaan setiap masyarakat, mekipun kemudian prakteknya berbeda-beda bentuk.

Perdebatan seputar maskulinitas dan patriarki

Apa itu maskulinitas?

Tanya jawab dan argumentasi masalah maskulinitas pada masyarakat muslim di Kerala India.

Professor Niko Besnier yang sedang bertanya pada Professor Filippo mengenai maskulinitas pada masyarakat muslim di Kerala India.

Ini adalah pertanyaan yang pertama muncul di kepala saya ketika saya dengan sangat panik berusaha membuat thinkpiece yang harus saya kumpulkan dalam waktu tidak kurang dari 12 jam itu. Belum pernah saya panik hingga saya bahkan tidak ingat satu teoripun yang pernah saya pelajari. Ternyata, saya tidak punya ide dan jawaban yang instan. Untuk membaca teori lagi, saya tidak mampu. Akhirnya saya berusaha berfikir dengan merunut jawaban2 yang pernah diberikan oleh teman-teman saya pada masa penelitian dulu. Menurut jawaban teman-teman saya di saat penelitian dulu, maskulinitas adalah perilaku maskulin. Berjalan dan bergerak tidak dengan lemah gemulai, tidak menggunakan bahasa banci sebagai bahasa sehari-hari, dan tidak menggunakan kosmetika seperti layaknya sebagian perempuan dan banci dandan.

Kemudian, perdebatan yang terjadi di awal workshop kami ini adalah “Is gender matter?” Apakah jender adalah sesuatu yang relevan lagi untuk diperdebatkan dan merupakan masalah, baik sosial maupun akademis? Ataukah kita sekarang sebenarnya hanya memelukan 2 dikotomi ini, yaitu maskulinitas dan femininitas, kemudian segalanya yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan kedua term ini adalah sebuah performative semata. Artinya gendernya sendiri sebagai sebuah studi dan konsep tidak lagi produktif dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan. Tentu saya kecewa mendengar pernyataan yang sangat sinis, pesimis dan terkesan menafikan kegunaan dan kerumitan ilmu yang saya tekuni selama beberapa tahun ini. Saya menangkap kekecewaan dimata para peserta lainnya.

Jawaban versi saya, “Maskulinitas merupakan sebuah payung yang dapat merangkum apa saja yang termasuk dan disebut maskulin dan atau juga tolak ukur yang menyangkut nilai dan norma yang maskulin. Maskulin yang saya maksud adalah oposisi dari feminin.”

Ketika kelas menjadi ramai, saat itu saya segera sadar, saya tidak sedang political correct, saya sedang thinking out loud. Saya meneruskan jawaban saya di dalam kelas yang penuh dengan suara dengung para rekan-rekan peserta workshop.

“Karena maskulinitas, begitu juga femininitas merupakan sebuah hasil kebudayaan dan proses berbudaya, yang dapat ditemukan di berbagai masyarakat, namun juga dipraktekkan dengan variasi yang berbeda-beda. Maka, kita baru dapat mengerti perbedaan dan kesamaannya dalam bentuk praktek yang kita saksikan atau dengan dalam masyarakat, ketika kita sedang melakukan penelitian lapangan.” Ujar saya dengan gaya yang sangat yakin.  Memang jawaban ini seperti sudah standar ditengah kalangan antropolog yang menjunjung tinggi relativisme dan dinamika.

Patriarki dalam studi jender

Dr. Adnan Hossain, peneliti Hijra dalam  kosmologi, terkait dengan agama Islam dan Hindu di Bangladesh. Keresahan dan frustasi para peserta, dalam denaturalisasi maskulinitas dalam penggunaannya pada studi jender dan seksualitas.

Dr. Adnan Hossain, peneliti Hijra dalam kosmologi, terkait dengan agama Islam dan Hindu di Bangladesh. Keresahan dan frustasi para peserta, dalam denaturalisasi maskulinitas dalam penggunaannya pada studi jender dan seksualitas.

Konsep selanjutnya yang terkena giliran adalah (tidak lain dan tidak bukan), patriarki. Buat saya, kata ini adalah momok. Saya punya “hate and love relationship” dengan kata ini. Itu sebabnya, saya sangat jarang menggunakan kata ini dalam tulisan saya, seperti juga saya takut menggunakan kata maskulinitas atau femininitas di dalam thesis saya. Mengapa saya terkesan agak segan menggunakan kata ini. Sadar tidak sadar, karena sejak saya menulis skripsi saya mengenai strategi perempuan di parlemen, 10 tahun yang lalu, saya telah akrab dengan tulisan-tulisan yang membahas patriarki sebagai biang keladi ataupun “laki-laki adalah predator,” yang kemudian sangat sering diperkuat dengan argumentasi yang kembali melompat kepada budaya patriarki.

Keberatan saya, karena kata ini sering digunakan secara sporadis, namun tanpa menjelaskan makna dan batasan serta konteks dimana patriarki ini sedang dibicarakan. Bagaimana mungkin, jika konteks, konsep-konsep lain juga mengalami pergeseran maupun perubahan makna, namun patriarki seperti tidak digugat dan dijelaskan dengan rinci maknanya. Jika maskulinitas dilekatkan pada laki-laki, begitu juga dengan patriarki. Tulisan Rianne Subijanto berjudul “Moral yang minim: Mempertanyakan kembali perjuangan perempuan” seperti berbicara kepada keresahan saya mengenai konsep-konsep lawas ini dan penggunaannya dalam tulisan akademis serta non-akademis.

Workshop mengenai maskulinitas ini membangunkan beberapa dari kami semua dari sebuah status quo tentang apa itu studi jender, femininitas dan maskulinitas. Secara produktif dan kemudian menjadi reproduktif kami berusaha mengeksplore pengetahuan yang pernah kami telan bulat-bulat itu. Jender selama ini suka tidak suka telah dikaitkan atau kadang misinterpretasi dengan woman studies. Karena, prejudice, yang dianggap memiliki masalah ketidakadilan dan menjadi korban adalah perempuan. Maka secara taking for granted, banyak akademisi seperti juga saya yang tidak mengeksplore maskulinitas dan studi terhadap laki-laki dengan serius.

Pertanyaan yang kemudian juga timbul, apakah maskulinitas ini harus selalu dikaitkan dengan praktek seksual dan jender? Dalam hal ini saya merasa kemudian terjebak habis-habisan dan sadar bahwa jalan keluar itu tidak ada lagi. Maskulinitas tidak harus membahas laki-laki. Potongan rambut dan gaya berpakaian saya belakangan ini sangat sering mendapatkan komentar dari teman. Perempuan yang maskulin adalah salah satu panggilan baru saya, yang kemudian bukan hanya identitas jender yang terkena dampaknya, namun orientasi seksual saya juga banyak dipertanyakan. Dan tentu, seperti juga transwoman, saya harus menjelaskan diri saya kepada orang lain.

Menggunakan kata patriarki baik dalam ilmu sosial, maupun dalam artikel populer

Karena kita akan dengan sangat mudah jatuh dalam sebuah fenomena yang memberi kesan bahwa konsep ini tidak mengalami perkembangan dan proses seperti layaknya setiap konsep yang digunakan dalam ilmu pengetahuan. Setiap konsep lahir dengan latar belakangnya sejarahnya sendiri, namun ia akan selalu mengalami perkembangan. Ia tidak ahistoris. Dalam ilmu antropologi, pendekatan ini ini dikenal sebagai diakronik. Diakronik merupakan salah satu pendekatan metode dalam ilmu sosial yang sangat penting dan berkontribusi terhadap perkembangan teori.

Kita juga harus menyadari dalam menggunakan konsep patriarki, konteks dan sejarah setiap masyarakat berbeda. Itu sebabnya, penting, jika kita menggunakan penjelasan-penjelasan mengenai mengapa dan bagaimana konsep patriarki ini digunakan dalam masyarakat, dalam hal ini dalam masyarakat di Indonesia. Selain hal ini penting untuk memberikan informasi pada pembaca, hal inipun sangat penting dalam berlatih memahami konsep yang kita gunakan atau baca secara kritis. Sikap kritis terhadap sebuah konsep maupun teori, tidak membuat konsep atau teori ini menjadi lemah atau mati. Kritik dan kajian tersebut justru yang memperkaya keragaman makna dan fungsi sebuah konsep dan teori.

Perlu kita sadari, tidak semua pembaca memiliki pengetahuan yang sama mengenai sebuah konsep. Menurut saya pribadi, ini tidak masalah, karena tidak mungkin semua orang, dengan latar belakang pengetahuan yang berbeda-beda, memiliki pengertian yang sama mengenai sebuah konsep, dalam hal ini, patriarki ataupun maskulinitas. Oleh sebab itu penting untuk dijelaskan batasan dan maksudnya, sehingga, patriarki bukanlah sekedar laki-laki yang menekan perempuan, tanpa ada penjelasan sejarah dan mekanismenya.

Moralitas sebuah masyarakat dan relativisme

Meskipun kami, para antropolog telah dilatih untuk menggunakan pendekatan relativisme atau mengambil jarak untuk mengerti nilai moral yang lain, baik itu individu dan dalam masyarakat, bukan berarti lantas kami tidak mempunyai prejudice dan tidak mengukur moral orang lain. Terkadang masih ada ledekan atau senyum tidak enak ketika salah satu dari kami sedang membicarakan prakteks seksual sebuah masyarakat. Bahkan saya keceplosan menggunakan kata setia dalam ketidakpercayaan saya menanggapi hasil temuan machoisme kaum laki-laki atau suami di Cuba yang menunjukkan rasa cinta dan setianya terhadap istrinya, namun tetap mempertahankan affairnya dengan kekasihnya.

Apa yang salah dengan affair dan poligami dalam masyarakat Betawi di Jakarta atau poliandri dalam masyarakat Islam di Kerala? Bahkan bukan lagi serial monogami, tapi serial poligami yang terjadi di Cuba, dimana semua suami punya affair, begitu juga dengan para istri. Semua itu masih terkait dengan tujuan dalam rangka menjaga langgengnya tradisi, nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, yaitu nilai machoisme dan kesetiaan. Kesetiaan, dalam prakteknya memiliki kompleksitasnya sendiri. Dan saya hanyalah individu yang terekspos dengan tradisi serupa, meskipun disaat yang sama menuntut budaya yang straightforward dan tidak menjebak saya sebagai anggota masyarakatnya.

Relativisme tidak semudah yang diajarkan oleh para guru antropologi kami. Kami masih tertawa, bisik-bisik dan berprasangka, karena kami memang sekedar manusia yang merupakan hasil dari budaya yang diajarkan pada kami. Suka atau tidak suka.

Maskulinitas yang mengalami pergeseran atau perubahan

Artikel dari Kageha dan Moyer berjudul Putting sex on the table mengenai kehidupan seksual dan perubahan makna maskulinitas dalam sebuah masyarakat di Nairobi, Afrika setelah intervensi dalam rangka menangani epidemi HIV&AIDS adalah tulisan yang memberikan penjelasan yang paling gamblang mengenai perubahan maskulinitas. Mungkin karena dari seluruh artikel yang saya baca, hanya artikel ini yang dapat memberikan penjelasan mengenai hasil observasi lapangan sebelum dan setelah intervensi dilakukan terhadap sebuah kelompok masyarakat. Kita memang dapat melihat perubahannya dengan jelas. Dan maskulinitas dalam hal ini memiliki konteks yang sangat jelas. Masa epidemi HIV dan aids dan kaitannya dengan sebuah program intervensi yang spesifik.

Dalam artikel ini dijelaskan bahwa laki-laki dalam masyarakat Nairobi (seperti juga masyarakat yang lainnya) memiliki pressure untuk dapat memuaskan para istri dalam hal seksualitas. Kemampuan seks atau sexual prowess seorang laki-laki adalah salah satu tolak ukur penting dari maskulinitas mereka. Namun ketika mereka sadar akan adanya epidemi HIV dan aids serta kaitannya dengan perilaku seks, lantas banyak dari mereka menjadi murung. Bagi mereka yang HIV+ juga tidak berani mengakui pada pasangan bahwa mereka mengidap virus ini.

Kebanyakan program intervensi yang ada menganjurkan mereka untuk abstain atau tidak terlalu aktif untuk melakukan hubungan seks lagi. Belum lagi obat yang sangat keras yang berpengaruh kepada prestasi seks mereka. Kehidupan seksual dengan pasanganpun menjadi perlahan-lahan hilang. Salah seorang lelaki bicara bahwa untuk mereka yang sejak awal aseksual, bukanlah masalah besar untuk tidak berhubungan seks. Tetapi untuk mereka yang terbiasa menikmati seksualitasnya, maka ini adalah sebuah malapetaka besar.

Program intervensi baru yang dipraktekkan di Nairobi adalah program untuk tetap hidup dengan HIV yang telah diidap melalui medikasi atau pengobatan, namun tidak menghilangkan hasrat seksual yang ada. Program ini memiliki kelompok atau grup terapi yang memberikan stimulasi untuk dapat kembali menikmati seksualitas mereka. Mereka juga diberikan obat seperti viagra untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka ssampai kemudian kemampuan tersebut kembali pulih. Setelah pulih, mereka tidak lagi butuh viagra.

Berbagai contoh kasus yang saya pelajari dari studi etnografi yang membahas mengenai maskulinitas. Namun kemudian memang hanya dengan mempelajari prakteknya dalam masyarakat, yang membuat kita mengerti bagaimana maskulinitas ataupun femininitas dipraktekkan di dalam sebuah masyarakat. Perubahan bisa terjadi dengan sebuah peristiwa berskala sangat besar yang menimpa sebuah masyarakat. Contohnya seperti krisis ekonomi dan wabah penyakit. Namun, maskulinitas tidak memiliki bentuk dan definisinya yang universal.

Daftar Pustaka

Harkonen, Heidi. 2013. Negotiating Wealth and Desirability: Changing Expectations on Men in Post-

Soviet Havana. University of Helsinki.

Kageha Igonya, Emmy and Eileen Moyer.2013. Putting sex on the table: sex, sexuality and masculinity among HIV-positive men in Nairobi, Kenya. University of Amsterdam.

Odinga, Agnes. 2011. “I am not Tassa, He Is not a Man like other Men”: Feminising Infertility and Masculinising Fertility in South Nyanza, 1945–1960. In African Sexualities: A Reader. Sylvia Tamale, ed. Pp. 474–480. Cape Town: Pambazuka Press.

Tulisan ini telah dipublikasikan oleh Ourvoice Indonesia

Pancasila dan kegagalannya dalam melindungi waria warga Kampung Duri

1384197_10151751488707732_271022495_n

Bulan April lalu ditahun 2013, anggota komunitas waria di Jakarta Barat dituduh telah membawa sial bagi lingkungan tempat dimana mereka tinggal. Komunitas waria di Kampung Duri mengadakan ceramah Islam mingguan setiap hari Jumat malam. Akan tetapi pada suatu malam di bulan April, warga di wilayah tersebut memprotes kehadiran dan acara pengajian mereka. Dengan  menggunakan slogan-slogan Islam dan mengatakan bahwa perilaku transjender yang “berdosa” telah menyebabkan bencana kebakaran di lingkungan tempat tinggal mereka. Komunitas waria diminta untuk pergi dari kampung tersebut.

Didalam masyarakat di Asia Tenggara, ada kelompok minoritas pria yang identitas gender dan seksualnya dianggap menyimpang dari harapan normatif. Penampilan dan praktek seksual mereka tidak sesuai dengan heteronormatif – himpunan norma yang membakukan heteroseksualitas dan membatasi bentuk ekspresi gender dan seksualitas lainnya dan  menyebutnya sebagai penyimpangan. Menurut ahli gender dan seksualitas seperti Robert Corber, Stephen Valocchi dan Gayle Rubin, perangkat norma ini bekerja untuk mempertahankan dominasi heteroseksualitas dengan mencegah bentuk prakteks seksualitas lainnya.

Di Indonesia, lelaki-lelaki ini memliki berbagai sebutan, yakni waria dan banci. Istilah gay juga kerap dipergunakan, yang sebenarnya menyederhanakan kerancuan antara identitas jender dan orientasi seksual individu.

Sebelumnya, mereka banyak dipanggil dengan sebutan wadam—akronim dari Hawa-Adam atau Wanita Adam. Namun, Kementerian Agama tidak setuju dengan penggunaan nama nabi yang dianggap suci ini untuk menyebut lelaki yang tidak mengikuti norma heteroseksual. Kementerian pun memberikan nama resmi baru, yaitu Waria. Waria berasal dari kata Wanita dan Pria. Istilah ini sering digunakan saat ini di Indonesia.

Sementara waria merupakan bagian yang nyata dari masyarakat Indonesia, namun mereka juga terpinggirkan dan sering dipandang  konyol atau berdosa menurut beberapa persepsi agama, dan dalam konteks negara kebangsaan Indonesia.

Keberadaan  transjender dapat dilihat dalam berbagai budaya dan kelompok etnis di kepulauan Indonesia. Keberadaan mereka memiliki sejarah, makna dan fungsi mereka sendiri, baik dalam konteks sosial, maupun spiritual. Dalam budaya Bugis, bissu dikenal sebagai dukun yang melakukan ritual doá maupun penyembuhan, yang mengenakan pakaian wanita sebagai syarat ritualnya. Di kota Ponorogo Jawa Timur, kita dapat menemukan reog, pertunjukan tari yang dilakukan oleh warok dan gemblak. Warok biasanya seorang yang tinggi perawakannya. Sedangkan gemblak adalah seorang lelaki muda yang menjadi asistennya.

Oleh sebab itu, keberadaan identitas transjender bukanlah fenomena baru di Indonesia. Didalam tradisi, praktek transjerism tidak selalu dianggap sebagai dosa. Namun ketika Islam dan Kristen berkembang luas di Indonesia, tradisi transjenderisme mulai dianggap menyimpang dan terbelakang. Agama-agama besar yang merupakan produk dari kolonisasi ini, tidak memberikan ruang bagi kaum transjender dan praktek transjenderisme. Perilaku transjender lalu dibenturkan dengan aturan-aturan agama yang mendosakan mereka.

Sejalan dengan agama, heteronormativitas telah didorong untuk menjadi bagian dari budaya nasional. Heteronormativitas, misalnya, diberlakukan sejak masa rezim Orde Baru Soeharto. Tradisi transgenjerisme ditekan secara dramatis karena tidak sesuai dengan versi modernitas yang dianggap mewakili identitas Indonesia sejati.
Namun, ideologi modern dan kekuasaan pemerintahan, tentu saja tidak menjangkau setiap masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, praktek ini masih ada di beberapa masyarakat pedesaan dan pedalaman. Sementara itu, di Jakarta, dan kota-kota besar lain, pekerjaan waria paling umum adalah sebagai pemilik dan pekerja salon kecantikan, sebagai penyanyi jalanan (pengamen), penghibur atau pekerja seks. Peluang karir  dalam pekerjaan formal tetap terbatas, bahkan di kota besar sekalipun.

Ancaman  yang dihadapi transjender berasal dari keberadaan mereka yang terkucil dan dipinggirkan (marginal) dalam masyarakat. Laki-laki acap kali menggoda pengamen waria dari mobil mereka. Disaat rejim Suharto jatuh, sistem pemerintahan melemah dan protes dari kelompok masyarakat tertentu yang tidak menyukai wariapun semakin keras. Organisasi keagamaan garis keras telah mengecam keberadaan komunitas waria, dengan dalih untuk melindungi generasi muda dari penyimpangan moral.

Ancaman terjadi dua kali pada tahun 2010: selama sesi pelatihan HAM bagi waria, yang diselenggarakan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Depok. Kemudian, juga terjadi pada saat Konferensi Asosiasi Internasional Lesbian, Gay, Biseksual, Trans dan Interseks (ILGA) yang diselenggarakan di Surabaya.

Polisi tidak menjamin untuk melindungi keselamatan peserta selama konferensi ini berlangsung. Penggolongan transgender dan praktek sosial, serta seksualnya sebagai dosa telah memberikan ruang bagi publik untuk merendahkan dan mengejek kaum waria. Dengan mengkategorikan waria sebagai abnormal, kelompok pengecam waria ini membenarkan aksi kekerasan mereka terhadap kaum waria.

Menurut sosiolog asal Perancis Emile Durkheim, persamaan mengikat masyarakat, sementara perbedaan dapat menyebabkan ketakutan dan mengarahkan masyarakat pada perpecahan. Dalam pengertian ini, dengan mempraktekkan femininitas dan melanggar norma seksual, waria telah menantang kekakuan dan struktur sosial di Indonesia.

Keberadaan mereka, faktanya, menantang norma-norma dan nilai-nilai agama, kesusilaan bangsa dan hegemoni heteroseksual. Selain itu, asumsi bahwa waria selalu berpakaian seksi, berbicara kotor dan selalu terlibat dalam perilaku homoseksual lebih merupakan stigma daripada bagian dari karakter pribadi waria. Stigma yang tertanam dalam identitas mereka dianggap oleh orang lain sebagai ancaman bagi kesopanan dan agama.

Apa yang dilakukan oleh  warga Kampung Duri terhadap komunitas waria di daerah mereka adalah cara untuk menerapkan norma-norma agama mereka. Pada saat yang sama, tindakan kekerasan ini menunjukkan ketakutan masyarakat akan terancamnya kelanggengan hegemoni heteroseksual.

Tetapi terlepas dari ketakutan ini, sebagai warga negara Indonesia, waria memiliki hak yang sama seperti juga warga negara lainnya. Pilar kedua Pancasila, landasan filosofis resmi negara, berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Sebagai warga negara Indonesia, waria memiliki hak untuk diperlakukan secara adil dan beradab oleh sesama orang Indonesia dan aparatur negara.

Sebuah serangan untuk kelompok waria menunjukkan bahwa beberapa orang tidak memahami konsep kemanusiaan. Kemungkinan lain adalah penolakan sosial atas eksistensi waria yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori jender yang bersifat binair, telah menempatkan waria di luar kategori manusia yang harus dimanusiakan bagi kelompok yang menentangnya. Dengan kata lain, pengetahuan sebagian warga tentang kemanusiaan dan hak asasi manusia masih sangat rendah.

Sebagai pilar masyarakat Indonesia, Pancasila ditantang untuk menjawab dan memecahkan kompleksitas ini.

Dalam kasus waria, negara memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan kepada warga negara Indonesia, bagaimana mereka dapat mematuhi agama mereka, tetapi pada saat yang sama menegakkan kemanusiaan dan hak asasi manusia, sehingga waria bisa hidup sesuai dengan identitas mereka, sementara di lain pihak  merasa dihormati dan aman.

Artikel ini sudah dipublikasikan di website Our Voice dan The Jakarta Globe.